06 August 2009

Selamat Jalan si Burung Merak !


Dunia takkan pernah lupa bahwa kau pernah ada disini. Dunia pun takkan pernah lupa bahwa kau pernah berdiri menantang dan berteriak:

Kenapa pembangunan tidak berarti kemajuan ?
Kenapa kekayaan satu negara membuahkan kemiskinan negara tetangganya
Peradaban penumpukan tak bisa dipertahankan , lihatlah
Kemacetan , Polusi dan Erosi .


mereka yang pernah kau sentak tentu takkan pernah lupa masa-masa itu...
sajakmu setajam mata panah yang menembus dada Bisma...
dan mereka yang pernah kau bela, pasti merindukan kau berdiri dan berdendang menyindir:

Ur! Ur! Badaur!

Kotak korek api
maju mundur maju mundur
Uang suap pegang kendali

Ur! Ur! Badaur!
Kalung jali-jali
Hidup rakyat hancur lebur
Wakil rakyat malahan naik gaji

Si tukang riba disebut lintah darat
Si hidung belang disebut buaya darat
Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
Mereka yang berhutang , yang bayar , lha koq rakyat!


dan tentu, putri duyung tawananmu pun pasti rindu desahan mesramu kala berucap:

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !


Wahai kau Si Burung Merak...Pergilah...pergi dengan tenang